Merasa nyaman dan senang bersekolah merupakan faktor penting yang akan memberikan motivasi tinggi terhadap anak dalam proses belajar.

Seorang anak — sebut saja Rani — kini berusia 6 tahun 9 bulan. Dia duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar (SD). Tidak seperti siswa lainnya, Rani tampaknya menghadapi berbagai masalah. Tugas-tugas sekolahnya tidak pernah selesai. Posisi duduknya menunjukkan kurangnya minat dan motivasinya terhadap sekolah. Tiap ingin berangkat ke sekolah, dia selalu merasakan sakit perut. Tapi setelah diperiksakan ke dokter, tidak ditemukan adanya gejala klinis. Rani sehat-sehat saja.

Di sekolah, Rani belajar bersama 39 siswa lainnya dalam satu kelas dengan seorang guru kelas. Guru mengajar dengan cara memberikan catatan-catatan di papan tulis dan murid mencatat di bukunya masing-masing. Di papan terdapat beberapa catatan mengenai beberapa mata pelajaran sekaligus. Ini dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi amak-anak yang ketinggalan dalam mencatat.

Rani tidak pernah selesai dalam mencatat maupun menyelesaikan soal-soal yang diberikan gurunya. Guru pun tidak berupaya menyediakan waktu bagi Rani untuk mengatasi masalah yang dihadapi muridnya. Rani memang termasuk anak pendiam, agak malu-malu dan kurang berinisiatif dalam memulai pertemanan.

Tentu saja orang tua Rani bingung. Kebingungan itu bukan tanpa alasan. Masalahnya, saat belajar di Taman Kanak-kanak (TK), Rani termasuk anak yang cepat dan mudah mengikuti kegiatan-kegiatan yang diberikan oleh guru. Dia sudah dapat membaca, berhitung, dan menulis saat menyelesaikan pendidikannya di TK.

Apa yang terjadi pada diri anak itu? Linda Primana, staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang mengisahkan kasus tersebut dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Jakarta Books Rabu (14/4) lalu. Ia melihat, tampaknya sekolah yang ditempati Rani saat ini tidak sesuai dengan keadaan perkembangan dirinya.

Linda menuturkan, orang tua beranggapan dengan perkembangan yang baik di TK, Rani dapat dengan mudah mengikuti pelajaran-pelajaran di SD yang dipilih orang tuanya. ”Padahal, untuk dapat masuk dan memulai pendidikan di SD, dibutuhkan kematangan dan kesiapan sekolah yang mencakup aspek fisik, mental, dan sosial-emosional,” tuturnya.

Bagi seorang anak, kata Linda, kelas 1 SD merupakan periode trasisi dari masa kanak-kanak yang pesat pertumbuhannya ke fase berikutnya yang memiliki laju perkembangan tidak secepat sebelumnya. Meskipun semua pertumbuhan mengikuti pola umum, namun setiap anak memiliki pola dan waktu tumbuh yang khas.

Dia mengatakan, ada anak yang ‘matang’ lebih cepat, ada pula yang lebih lambat dibandingkan anak lain, baik dari segi fisik, mental, sosial, maupun emosional. ”Terlalu cepat atau terlalu lambatnya pertumbuhan dapat terjadi pada semua aspek, namun dapat pula terjadi pada satu atau beberapa aspek saja,” tuturnya.

Linda juga menambahkan bahwa perbedaan kecepatan perkembangan anak dapat disebabkan oleh keadaan yang dibawa sejak lahir maupun oleh pengalaman hidup, seperti gizi, penyakit, atau deprivasi.

Prof Dr Soegeng Santoso yang juga menjadi pembicara dalam seminar itu memandang perlu memperhatikan anak di usia 0 – 6 tahun. Di masa-masa seperti itu, disebutnya, kecerdasan anak sudah mencapai 80 persen. ”Kalau itu tidak diperhatikan, jenjang selanjutnya akan susah,” tutur guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Bagaimana memilih sekolah yang unggul untuk masuk SD? Pendiri Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini UNJ itu mengatakan, dewasa ini yang dianggap pembelajaran unggul oleh masyarakat adalah hasilnya. Padahal yang tepat, proses dan hasilnya. Dengan menekankan pada hasil anak dituntut menjadi juara kelas, nilainya selalu bagus. Anak kemudian diikutkan dalam bimbingan belajar, sebab hasil pembelajaran di sekolah dirasakan kurang. ”Cara ini kadang-kadang mengenyampingkan proses pendidikan, yaitu membentuk kepribadian anak,” tuturnya.

Sekolah yang unggul, menurut dia, bila memenuhi beberapa kriteria. Antara lain guru yang pandai dan mempunyai kepribadian yang matang, metode mengajar yang cocok dengan mata pelajaran yang diberikan guru, keseimbangan antara pelajaran jasmani dan rohani, dan memperhatikan berbagai kecerdasan yang dimiliki anak. Dia menyarankan, sebaiknya mencari SD yang memenuhi syarat seperti itu. Paling tidak sebagian besar dari syarat tersebut.

Soegeng mengingatkan, faktor yang tidak boleh dilupakan adalah disenangai anak atau tidak. Yang bagus, kata dia, sekolah itu sangat disenangi oleh anak, sebab akan memberikan motivasi yang tinggi untuk belajar. ”Jangan sampai anak dipaksa ke sekolah tertentu atas kemauan orang tua semata,” tuturnya.

Linda menambahkan, untuk menemukan sekolah yang paling sesuai dengan kondisi anak, sebaiknya mencari informasi sebanyak-banyaknya mengeai berbagai sekolah yang terdapat di lingkungan rumah atau yang terjangkau lokasinya. Dalam memilih sekolah, katanya, perhatikan atau cari informasi tentang karateristik guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut.

Menurut dia, kepribadian guru sangat menentukan karena sebaik apa pun kurikulum bila disampaikan oleh guru yang tidak memiliki kepribadian yang patut diteladani, akan sia-sia. ”Yang paling penting peran guru. Anak harus dibuat nyaman, tidak ada rasa takut,” ujarnya.

Ketidaknyamanan semacam itulah yang dirasakam Rani, seperti dikisahkan di awal tulisan ini. Lalu, bagaimana menyelesaikannya? ”Saya menganjurkan pindah sekolah,” Linda menyarankan.

Idealnya, Proses dan Hasil

Seorang guru mengeluhkan kondisi pendidikan di sekolah tempatnya mengajar. Guru salah satu sekolah ternama di Jakarta ini merasakan kerap ada ketidaksesuaian pandangan antara keinginan sekolah dan keinginan orang tua dalam mendidik siswa. ”Sekolah mau menekankan pada proses, orang tua maunya hasil.” tuturnya dalam seminar yang diselenggarakan Jakarta Books tersebut.

Menjawab pertanyaan itu, Prof Dr Soegeng Santoso cenderung tidak menyalahkan kedua pandangan yang berbeda tersebut. Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu bilang, ”Idealnya, proses dan hasil.” Menurut dia, proses berkaitan dengan pribadi anak. Orientasi pada hasil juga diperlukan untuk bisa maju. ”Hasil dan proses tidak bisa dipisahkan,” katanya.

Soegeng menuturkan, antara orang tua dan guru harus terjalin kerja sama yang baik. Namun dia mengingatkan, jangan guru mengintervensi ke rumah. Atau sebaliknya, jangan orang tua mengintervensi sekolah. Kedua pihak harus saling mengisi dan menjalin hubungan yang harmonis.

Sebenarnya, menurut Soegeng, yang utama dalam pendidikan adalah proses. Hanya saja, tidak sedikit sekolah yang lehih mengedepankan pada hasil akhir. Ini menyebabkan anak didik kurang memperoleh kesempatan untuk bersenang-senang. Pelajaran menjadi tidak menyenangkan.

Padahal, dalam pembelajaran, guru wajib memberikan suasana senang. Jangan sampai siswa takut kepada guru, takut pada mata pelajaran. Siswa harus dibuat senang dengan pelajaran dan senang belajar. ”Menakut-nakuti dalam mendidik tidak baik. Hindari kata ‘jangan’ karena anak biasanya bereksperimen,” dia mengingatkan. bur

Sumber : Republika (16 April 2004)